Kafe Berinisial “O” - By: Evan A.S
Monday, July 24th, 2006Langit sudah gelap, aku hanya duduk di sudut sebuah kafe berinisial huruf “O” di bilangan dago bersama secarik kertas putih polos dan pena hijau tua yang tergeletak di atasnya. Aku hanya memandangi kerlip lampu rem kendaraan yang berjajar menunggu trafic light berubah menjadi hijau - tepat di persimpangan yang ricuh. Seraya memperhatikan gumpalan es pada gelas yang ku goncang memutar, pikiranku pun menerawang pada bayangan wanita yang wajahnya tercetak pada secarik kertas kecil tipis di dompet ku. Wajah cantiknya, senyuman nakalnya, belaian lembutnya, dan lekukan tubuhnya kini tak dapat kurasakan lagi. Dirinya - sosok yang menurutku hampir sempurna, telah pergi meninggalkanku sebulan lalu.
Malam ini, untuk kesekian kalinya aku datang - lagi-lagi duduk di tempat yang persis sama seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasa,aku hanya memesan segelas cappucino dingin.
Sudah tiga malam aku memperhatikan wanita yang duduk sendiri tepat dihadapanku - kira-kira jaraknya dua bangku, usianya mungkin sekitar 25 tahun. Malam ini berbeda, dia memakai kaos hitam polos - ketat hingga lekukan tubuhnya terlihat jelas, meski tanpa make up, muka kusamnya tak lagi
tampak, malam ini mukanya secerah lampu yang tergantung tepat di atas mejanya. Malam-malam sebelumnya dia hanya menghisap rokok dan meneguk minuman beralkohol- berlabel carlsberg, dengan kantung mata yang kadang lebam menghitam. Mungkin malam ini dia sedang bahagia, pikirku.
Sudah tiga batang marlboro merah kuhabiskan sambil memperhatikan wanita berbaju hitam itu, kutarik napas dalam-dalam lalu aku berdiri menghampirinya. Sambil menawarkan rokok, aku duduk di sampingnya. Dia mengambil sebatang rokok yang kutawarkan, kusodorkan lighter zippo-ku yang baru saja kubeli siang tadi. Setelah hisapan pertama, tanpa mengenalkan diriku terlebih dahulu, aku mengeluarkan satu pak kartu remi yang kubawa di kantong kiri celanaku. Aku menunjukan satu trik sulap yang telah kupelajari selama seminggu(menurutku trik ini cukup sulit, aku mempelajarinya dari dvd David Blaine-The Magic Man yang kubeli beberapa waktu lalu). Dia terpana lalu tersenyum ketika aku berhasil mengelabuhinya dengan trik itu. Akupun ikut tersenyum seraya memandang jauh ke dalam matanya yang penuh misteri.
Detik berganti dengan cepat, kami hanya membicarakan hal-hal yang memicu senyuman dan tawab canda. Dia memperhatikan jam tangan bermerek guess yang terbelit di pergelangan tangan kirinya, sudah satu jam berlalu semenjak kami duduk berdua. “Kaya’-nya gue harus balik nie..”, sebelum aku sempat berkata apa-apa, dia menawariku untuk berkunjung ke rumah sewaan-nya. Tanpa pikir panjang, aku menganggukkan kepala.
To be continued..