Untuk evaN (seri: Aku yg ’sok’ pujangga)

    Dibalik tirai merah yang membalut salah satu sisi ruang persegi berukuran tiga kali tiga itu, sudah biasa dia terduduk berjam-jam sambil merepresikan emosinya pada setumpuk lembaran kertas putih.

 

    Kalikan dengan 30, lalu kalikan dengan 24, kemudian kalikan lagi dengan 60. Perlombaan menutupi kebenaran yang sarat dengan kepura-puraan telah berlangsung selama 388.800 menit. Dia telah tertipu oleh bualan berbalut rindu yang terrangkai indah menjadi lantunan kata-kata. Mungkin selama itu pula dia telah menyandingkan fantasi dan kepercayaannya pada tempat yang keliru. Tempat yang akhirnya menghempaskan dirinya ke dunia melankolis.

 

    Dia pernah mencintainya. Kecuali kata cinta terasa terlalu kecil untuk mengungkapkan sebuah rasa. Semua kata, meskipun dirangkai bersama akan tetap terasa terlalu kecil untuk mewadahi rasa.

 

    Wanita dengan huruf "W" kapital - yang tidak pernah menyimpan cetakan wajah-nya, pasti tidak tahu seperti apa rasanya menatap dalam-dalam satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari tiap helai rambut yang polos bercampur bau uap tubuh yang familiar.

 

    Sampai akhirnya pada hari ini, 21 hari menjaleang tanggal kelahirannya - dia yakin dan paham betul betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tidak ada peluk ataupun cium yang menjadi penanda bahwa akhir telah diputuskan bersama. Tidak ada sepasang mata lain yang meyakinkan bahwa ini memang sudah usai, benar-benar sudah usai. Dia pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah dia alami.

 

    Dia yang merasakan apa yang tidak mereka rasakan. Yang mendamba sesuatu yang tidak akan pernah dia alami. Dia yang masih terduduk dibalik tirai merah bersama setumpuk lembaran kertas putih dan kotak persegi bertuliskan marlboro :-)

 

   

Leave a Reply